Quarantine
Quarantena yang berarti “empat puluh hari” adalah sistem yang mencegah perpindahan orang dan barang selama periode waktu tertentu untuk mencegah penularan penyakit. Sistem karantina identik dengan pengasingan terhadap seseorang atau suatu benda yang akan memasuki suatu negara atau wilayah.
Kini definisi tertulis menjadi tak sepenting implementasi karena perintah menaati adalah mutlak. Memang semua kebijakan sudah seharusnya seperti ini, mengutamakan yang dianggap benar. Semua tujuan pasti baik, hanya aplikasinya pasti kurang sesuai. Entah salahnya persepsi atau takdir.
Seperti kata orang, sejahat-jahatnya orang tua pasti memiliki rasa sayang kepada anaknya. Kebijakan yang ada ini sudah pasti hanya untuk kebaikan kita, bukan untuk kebenaran relatif tiap orang. Mereka bukan mengurung tapi menghitung prediksi keberhasilan. Bukannya jahat yang hanya melarang tapi hebat yang terus membimbing.
Mungkin sebagian dari kalian senang dengan banyaknya waktu senggang. Jauh dari penat tugas, kejaran deadline, atau kesibukan lainnya. Memang terasa hidup menjadi tentram, tanpa mikir hal-hal rumit, santai walau dibangunin bedug dzuhur. Kini pusing belajar dan kerjaan sebanding dengan pusing kebanyakan tidur. Sibuknya kita dengan gadget mengiringi tidurnya mentari. Malahan sebagian dari kalian jadi nokturnal. Damai emang hidupnya. Oh ya, pernah gak sih mikir kenapa cerita- cerita atau film gak damai terus aja? Kenapa harus ada konflik? Kenapa harus ada perang? Satu jawabannya, karena bosan. Dibalik enaknya hidup damai kita sekarang gak mungkin gak ada bosannya. Masa sih gak kepikiran temen, kumpul, main, canda. Ya, pengennya sih main, liburan entah kemana. Tapi ingat! Jangan sekarang!
Kalau dipikir-pikir masih enakkan kita yang berasa damai jadi bosan, ketimbang para tulang punggung keluarga. Lebih berat pasti dengan adanya beban, tapi mereka lebih mengenal dengan sebutan lain, tanggung jawab.
Yang dihambat memang sosialnya, tapi yang surut sampai ekonominya. Okelah gapapa, tapi makannya gimana? Lumayan sih untuk pegawai dan yang sudah sukses. Tapi ingat, di dunia ada hitam ada putih. Pikirkan juga untuk mereka yang tiap hari keliling cuma buat cari makan. Kalau nggak jualan gimana? Kalau nggak boleh keluar gimana? Akal sehat pasti kalah oleh rasa lapar. Kalau gak bisa kerja harus gimana? Banyak saudara kita yang pulang kampung tapi kena masalah. Satu kalimat yang terus terngiang “Di sana saya makan apa?” Ada juga yang hilang akal sehatnya sampai mencuri, bahkan jumlahnya tidak sedikit. Bukan hanya sekadar harus tahu, tapi harus dipikirkan. Supaya ini membendungi akhlak kita. Sebenarnya kebijakan mereka memang untuk kita. Entah kurang sesuai dengan kita atau memang kita yang tak menyesuaikan. Susah memang situasi ini, kalau bisa dibilang “ngeri”.
Mending kelaparan apa ketularan? Entah yang mana yang benar. Ini bukan pertanyaan buat Yang di atas, pemimpin, maupun kita sendiri. Tidak harus ada jawabannya. Yang terpenting kita cari solusi terbaiknya. Tak mungkin mereka yang memimpin dipasrahi semuanya. Ini waktunya kuatkan jiwa sosial kita, tanpa keeratan sosial. Mungkin mereka yang sedang diuji, kalau besok kita? Sangat penting untuk sadar akan kondisi saat ini. Seperti kata pepatah, “Kalau lebih beri memberi, kalau kurang tambah menambah.” Yang di atas hanya memberi dorongan maupun arahan, tapi kita yang harus melakukan. Jangan lawan, ingat mereka teman yang mengutamakan kebaikan kita. Patuhi dan taati, walau niat membahayakan diri tapi pasti jadi bom bunuh diri. Ini bukan tentang siapa atau yang mana, yang pasti musuh kita tak kenal kata siapa. Entah akhir zaman atau skenario, tapi ini pertempuran kita.
Sedikit coretan saya. Terimakasih.

keren kk
BalasHapusAwokwowkowkwokwokwo
BalasHapuskerennn sekali luv
BalasHapus